Kisah Coro Melawan Curut

Coro adalah seekor kecoak rumahan. Ia dilahirkan dan tumbuh dewasa di sebuah rumah besar berlantai dua yang terletak di ujung jalan buntu. Sepasang suami istri dan dua orang anak diketahui sebagai pemiliknya. Coro hidup seorang diri. Pada saat ia kecil dan sedang tertidur, ayah dan ibunya pergi sejenak untuk mencari makan, tapi tidak pernah kembali. Coro sangat sedih dan sempat bertanya-tanya, kenapa orang tuanya meninggalkan ia begitu saja. Hingga suatu ketika, terdengarlah sebuah kabar, bahwa ayahnya mati mengenaskan dimakan Curut dan ibunya mati terinjak Sang Suami ketika berusaha melarikan diri dari kejaran Curut yang kalap.

Curut adalah seekor tikus. Ia tinggal di selokan atau lubang pembuangan di kamar mandi. Ia pemakan segala, bahkan hal yang sempat membuat Coro takut saat mengetahuinya, adalah Curut suka memakan serangga jika ia dalam keadaan sangat lapar. Sebab itulah, Coro memutuskan untuk memilih tinggal di langit-langit rumah daripada berada di tumpukan kertas dalam gudang ataupun di sekitar lubang pembuangan di kamar mandi. Coro merasa lebih aman dan nyaman, serta tidak perlu merasa khawatir kejadian serupa ayahnya akan menimpa dirinya.

Mulanya Curut tinggal di sekitar pinggiran kali. Namun, pada suatu hari terjadilah banjir besar yang merendam seluruh kawasan tempat tinggalnya. Ia terseret arus air hingga puluhan kilometer jauhnya, yang kemudian membawanya sampai ke rumah besar berlantai dua di ujung jalan buntu. Berhari-hari terapung tanpa makanan, membuat Curut merasa sangat lapar dan menjadi gila. Ia bahkan sampai menggerogoti kayu-kayu dan pada saat itulah matanya beralih pada orang tua Coro yang terlihat lezat dan menggoda. Mereka berada di tempat yang salah dan waktu yang tidak tepat.

Di usia remajanya, Coro adalah kecoak biang onar. Ia suka berkelahi dengan sesamanya dan membuat takut mereka. Ada alasan mengapa ia suka berbuat onar, hal itu dikarenakan ia ingin menjadi seekor kecoak tangguh dan pemberani. Tapi dibalik semua itu, sebenarnya ia hanya ingin menjadi kuat untuk membalaskan dendam atas kematian orang tuanya. Berita kematian orang tuanya ia dengar dari Lipas yang melihat langsung peristiwa itu. Saat itu Lipas tidak bisa berbuat apa-apa, ia ketakutan setengah mati melihat betapa buasnya Curut yang memakan ayah Coro. Coro sempat marah dan kesal kepada Lipas. Ia menganggap Lipas pengecut.

Merasa cukup kuat dan tangguh. Coro melakukan perjalanan ke semua penjuru rumah besar berlantai dua itu untuk mencari sosok Curut. Coro tinggal di langit-langit lantai dua. Jadi, pertama-tama ia mulai menyisir satu persatu ruangan di lantai dua yang sekiranya menjadi tempat tinggal Sang Curut. Dalam pencariannya, Coro bertemu dengan beberapa hewan lain penghuni rumah. Cicak yang bangga menceritakan kekuatan menempelnya di dinding. Nyamuk yang berisik dengan suara kepakan sayapnya. Sekumpulan Semut yang berbaris rapi. Dan Tokek yang hanya dilihatnya dari jauh karena Coro tahu bahwa Tokek berbahaya dan pemakan serangga.

Sudah tiga hari Coro berjalan menyusuri hampir setiap sudut rumah, tapi belum juga menemukan sosok Curut. Istirahatlah ia di tumpukan kardus bekas di dalam gudang lantai pertama. Saat sedang asyik memakan bekal makanan yang dibawa, terdengarlah suara-suara yang berasal dari salah satu sudut. Perlahan Coro berjalan mendekati suara itu. Mendadak ia ketakutan, saat melihat Curut yang dicarinya sedang makan sesuatu-entah itu sisa-sisa makanan manusia atau serangga lain yang menjadi korban-dengan lahap. Ada aura jahat yang membuat dirinya menjadi pengecut. Merasa ada yang memerhatikan, Curut menoleh. Ia melihat Coro terdiam kaku. Curut menyeringai, menampakkan gigi tajam dan matanya yang merah. Saat itulah Coro merasa bersalah, mungkin itulah yang Lipas rasakan saat melihat Curut waktu itu. Setelah akhirnya sadar dan bisa bergerak, Coro lari dengan cepat hingga tak terasa air matanya jatuh.

Sejak malam itu, Coro terus berpikir mencari cara mengalahkan Curut. Ia mulai melatih lagi kekuatan tubuhnya, baik itu dari kakinya maupun sayapnya yang mampu membawanya terbang tinggi. Seminggu berlalu, ia ingin mencoba kekuatan tubuhnya yang baru. Ia mencoba dengan sering menampakkan diri di depan manusia. Mengamati mereka dan mempelajari bagaimana cara menghindar dari sapu atau semprotan serangga yang mengarah kepadanya. Usahanya tidak sia-sia, sekarang ia memiliki kecepatan yang luar biasa dan daya terbang yang ampuh juga gesit. Hal itu bisa ia gunakan untuk melawan Curut dalam pertarungan satu lawan satu. Dan satu hal lagi, ia mendapat senjata yang cukup ampuh untuk digunakan melawan Curut.

Setelah memantapkan diri, akhirnya Coro kembali ke gudang di mana ia menemukan Curut. Perlahan-lahan Coro menyelinap ke tempat itu. Tidak ada sesiapa. Coro bingung, memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya, tapi tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara dari arah belakangnya.

“Kau mencariku, serangga kecil?” ucap Curut.

Refleks Coro membalikkan badan dan mundur beberapa langkah

“Apa yang kau takuti? Aku tidak akan memakanmu. Hahaha.”

“Hei Curut! Aku tak sebodoh itu mempercayai ucapanmu. Dulu, kau telah memakan Ayahku.”

“Ayahmu?” Curut berusaha mengingatnya.

“Jangan pura-pura bodoh. Kau akan menyesal berhadapan denganku.”

“Owh, aku mengerti, kau datang kesini untuk membalaskan dendam. Apa boleh buat, kau pun akan segera menyusulnya.”

Perkelahian pun terjadi. Coro membawa sebuah jarum sebagai senjata ampuhnya, sementara Curut hanya menggunakan ketajaman cakarannya. Kelincahan dan kemampuan terbang Coro menguntungkannya. Beberapa kali Curut berhasil ditusuk dan merasa kesakitan dibuatnya. Pertarungan itu cukup seimbang, tapi sayangnya pertarungan itu sedikit terganggu oleh suara pintu gudang yang dibuka oleh salah satu anak pemilik rumah.

Coro kehilangan konsentrasi. Tiba-tiba saja Curut menerjang dengan cakarnya dan Coro berusaha menangkisnya dengan kedua tangan yang akhirnya membuat tangannya buntung dan jarum yang dipegangnya terjatuh. Disaat Coro kesakitan , terjangan kedua Curut dilancarkan. Tapi dengan kekuatan yang tersisa Coro melompat ke muka Curut dan berhasil mengencinginya. Matanya terkena, menyebabkan panas dan membuatnya buta.

Curut semakin marah dan mengamuk. Ia mengejar Coro yang terus terbang menjauh dan tanpa disadari menuju pintu terbuka. Terdengar jeritan ketakutan yang menjadi suara terakhir yang terdengar oleh mereka, sapu yang dipegang anak pemilik rumah menghancurkan tubuh Coro dan Curut pun mengalami nasib serupa. Tubuhnya dipukuli dengan gagang sapu hingga ia terbaring lemah di lantai dan menghembuskan napas terakhir.

***

Tentang Dua Lelaki

Lelaki Pukul Satu

Matanya tak lelah menatap layar.
Sedari pagi ia sudah berteman setia membuat gambar.
Katanya, belakangan hari otaknya bekerja terlalu giat.
Padahal ia tidak minum obat kuat.
Jumat telah lewat, sabtu tetap tak bisa istirahat.
Ia menyortir beberapa kertas, cerita kecil yang cukup pantas.
Tapi meragu sudah menjadi satu dalam tubuh.
Beberapa kali ia berpura-pura, agar orang lain menjadi suka.
Dan kebodohan itu akhirnya ia sadari, pada pukul satu dini hari.
Matanya terus menatap layar.
Belajar, agar tak lagi ditipu oleh kebodohan.

Pamulang, Juli 2017

 

Lelaki yang Menaruh Kepalanya

Menjelang dini hari
Gaduh di kepala membuat pusing
Lelah, mata tetap terjaga, hitam disekitarnya
Ingin bermimpi, yang indah-indah, bahkan basah
Tapi gaung menyesaki rongga
Pukul dua, lelaki itu terbangun
Berdiri di sisi ranjang
Melaju, menuju dapur
Dibuka pintu kotak pendingin
Lelaki itu tersenyum, pikiran dingin menenangkan
“Semoga aku bisa bermimpi,” katanya.

Pamulang, Agustus 2017

Status Facebook

Penyair dalam diriku lebih memilih tidur lebih lama, Nona. Sebab kata, belakangan kehilangan cintanya, ia lebih sering berpropaganda.

Facebook, belakangan menjadi tempat untuk saya kembali menuliskan ide, opini, puisi, pemikiran dan bahkan ceracauan. Tak ada hal khusus sebenarnya, hanya saja Facebook masih sangat baik untuk dijadikan sarana berbagi cerita dan masih menarik untuk dijelajahi lebih jauh, terlebih mengenai apa yang orang lain bagikan dalam kolom yang biasa dikenal status.

Beruntung saya memiliki banyak pertemanan-lebih tepat 1227 orang- yang biasanya terdiri dari teman masa sekolah dan kuliah, teman rumah atau tetangga, teman chatting dan tentu saja saudara. Jadi saya bisa dengan mudah menikmati apa yang mereka bagi dan ceritakan dalam statusnya. Tapi sayangnya, sekarang ini saya meyakini bahwa beberapa diantara seribu orang teman tersebut sudah tak menggunakan Facebook lagi. Barangkali lantaran;

Kecewa
Seperti kau ketahui, mulanya Facebook dijadikan sebagai ajang mencari teman baru atau sarana berkomunikasi yang efektif dengan teman lama yang tak kunjung bertemu. Membaca status dan melihat foto-foto yang diunggah kadang bisa menuntaskan rindu, dan kadang pula membuat hati berkecamuk dari biasanya dan kemudian salah paham. Misalnya saja suatu ketika gebetan atau teman dekatmu membuat status yang kau kira itu adalah untukmu. Kau merasa sangat bahagia dan berharap lebih dia akan menjadi milikmu, hingga tak berapa lama ia mengunggah foto yang ternyata di dalamnya terlihat ia begitu dekat dan mesra bersama seseorang. Kau patah hati dan akhirnya demi kenyamanan diri menutup akun dan bahkan menghapusnya.

Sudah Bosan
Bagi mereka yang berusia sebanding dengan saya atau diantaranya, barangkali sudah merasakan bermain Facebook pada masa jayanya. Walau sekarang ini sudah banyak fitur tambahan yang menarik guna menyaingi media sosial lainnya, tetap saja beberapa orang mulai merasa bosan karena sudah merasa puas dan bermain terlalu lama, sehingga mereka beralih ke media sosial masa kini. Dan barangkali yang juga menjadi hal membosankan bagi beberapa orang, adalah Facebook sering digunakan sebagai tempat berjualan. Sebenarnya itu sah-sah saja, tapi kembali ke mulanya, perbincangan dan diskusi dengan teman lama berkurang karena mereka tak nyaman timeline-nya dipenuhi orang barang dagangan hingga akhirnya memutuskan menutup akun dan tak akan kembali.

Memiliki Keluarga Baru (Alias Menikah)
Status-status yang berupa kode kepada kegebetan, tulisan-tulisan pada note yang menceritakan hubungan cinta dengan pacar dan juga momen-momen kebersamaan yang mesra berupa foto-foto, yang kini hanya menjadi kenangan sebab pada akhirnya hanya menjadi mantan, itu harus dihapuskan atau bahkan dihilangkan agar tak ketahuan jejaknya. Itulah barangkali yang menjadi dasar mengapa banyak teman yang sudah menikah untuk berhenti bermain Facebook. Kalaupun ada, biasanya mereka membuat akun baru untuk memberitahu bahwa dia sudah punya kehidupan yang baru.

Terlepas dari semua alasan yang sudah dijelaskan, Facebook tetap menjadi andalan saya untuk menikmati kehidupan yang membosankan. Membaca status yang dituliskan beberapa teman adalah salah satu hal menyenangkan yang menjadi semacam hiburan hingga kadang membuat kita bertanya-tanya dan berpendapat entah baik maupun buruk. Saya meyakini bahwa kau juga setuju bahwa bermusuhan dan berjauhan dengan teman, itu tak baik. Tapi begitulah kehidupan, kita tak bisa membuat orang lain selalu mengerti apa yang kita mau.

Pada beberapa kasus yang sudah lama, terutama pilkada, beberapa orang teman dalam Facebook terbawa suasana. Mereka jadi berpikir yang tidak-tidak, juga menyebarkan berita yang belum tentu benar adanya, dan yang paling parah dan membuat saya muak adalah rasa kebencian yang tertulis pada status mereka. Ada yang bilang biarkan saja mereka seperti itu, tapi menurut saya memiliki seorang teman seperti itu tak ada faedahnya, jadi mau tak mau saya harus meng-unfriend mereka dari pertemanan.

Hasil nyata yang terjadi akibat kasus yang sudah-sudah, entah itu hoax atau black campaign, adalah warganet menjadi semakin baper. Contohnya saja pada kasus yang baru ini terjadi, tentang status Facebook seorang wartawan yang membandingkan dua tokoh politik pemerintahan membuat dia dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik. Padahal kalau dicermati, apa yang dia tuliskan pada status adalah fakta dan dengan sumber tepercaya. Jadi saran saya, demi mencari jalan aman, sebaiknya jangan terlalu memedulikan apa yang di-posting seseorang, apalagi berkomentar yang tidak-tidak sebelum tahu faktanya. Seperti kata Budi Darma dalam bukunya yang berjudul Orang-Orang Bloomington; “Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain. Hanya dengan jalan demikian, kita dapat tenang.”

Berdasar dari pengalaman itulah saya lebih sering menuliskan apa yang ada di pikiran saya-baik itu puisi, semacam sajak, opini singkat, ceracau sarat makna maupun kejadian sehari-hari-mengenai kehidupan yang saya jalani ketimbang harus mencaci maki dan menasihati orang lain seakan-akan dirimu yang paling benar sendiri. Biarkan orang berasumsi dan berpikir tentang saya ini dan itu, karena memang status Facebook sesungguhnya adalah sarana cerminan diri atau sarana pembohongan diri.