Tidurlah

Aku membelai rambut hitamnya yang lurus sebahu. Menikmati keteduhan pancaran wajah kala matanya sedang terpejam. Mengecup keningnya.

“Sayang, aku sudah sampai.”

Matanya mengerjap. Membuka perlahan. Sebuah senyuman merekah, lalu tangan kecilnya meraih tanganku yang sedang mengelus pipinya. Menggenggamnya untuk kemudian merengkuhnya di dekat dada.

“Ada apa sayang?” tanyaku.

Ia hanya mengangguk. Berusaha meyakinkanku untuk tak terlalu mengkhawatirkannya.

“Aku disini jika kamu membutuhkanku,” jelasku kepadanya.

Ia tak banyak bicara semenjak dokter memvonis bahwa usianya tak akan lama. Dan sore tadi, mendadak ia harus dioperasi lebih awal dari jadwal yang sudah direncanakan sebelumnya. Bodohnya, aku tak ada saat dia membutuhkan. Aku lebih lama menghabiskan waktu dengan klien-klien yang belum tentu memedulikanku seperti kekasihku.

“Kamu kenapa menangis?” tanyanya mengejutkanku sedikit.

“Tak mengapa sayang. Aku hanya senang bisa berada di dekatmu saat ini.”

“Baiklah. Oh iya, bagaimana perjalananmu kesini? Pasti macet ya? Kamu juga pasti lelah? Kamu tidur saja, nanti aku yang akan menjagamu,” ucapnya antusias.

“Lelahnya sudah hilang saat aku melihatmu.”

“Kamu merayuku ya?”

Aku hanya tersenyum untuk membalas tanyanya, dan kurasa itu adalah kalimat tanya paling lama yang sudah ia ucapkan hingga saat ini.

“Kalau begitu, boleh aku yang tidur duluan? Entah kenapa, hari ini aku merasa sangat lelah sekali. Tubuhku lemas, dan hanya ingin berbaring saja seharian. Kamu tak apa kutinggalkan?”

Kalimat tanya terakhir yang ia ucapkan berhasil membuat mataku berkaca-kaca kembali. Tubuhku merasa layu dan sekelumit pikiran yang tak tentu berkecamuk mengganggu perasaan. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, aku hanya bisa menanggapi pertanyaan yang diucapkannya dengan sebuah senyuman, karena mungkin itu akan membuatnya tenang dan nyaman.

“Iya, tidurlah sayang. Aku disini menemani tidurmu,” ucapku sambil mengenggam kedua tangannya.

Tak berapa lama, pintu terbuka. Dua orang perempuan dan seorang lelaki berpakaian putih masuk dan menghampiri kami.

“Mohon maaf Pak. Kami akan memindahkan jenazahnya untuk dengan segera dimandikan,” ucap lelaki itu kepadaku.

Bukan Tontonan

Jenuh, bahkan hingga muak sudah aku merasa.
Tak ada lagi segenggam aura ceria,
dan rasa bahagia yang tiada tara saat mendengar,
melihat dan menikmati siaran melalui media.
Hanya menampilkan beberapa fakta yang terkadang dibuat sekenanya,
menimbulkan persepsi bahwa itu adalah cerita palsu belaka.
Lihatlah pada bermacam berita yang ada,
mereka berkata bahwa moral anak bangsa sudah sangat mengkhawatirkan bagi dunia.
Namun sejatinya, semua itu berasal dari tontonan yang menjadikan semuanya bukan tuntunan.
Sinetron dan drama dalam televisi selalu saja sama alurnya ceritanya,
kecemburuan akan kebahagiaan seseorang awalnya,
dan kemudian mati atau taubat menjadi pilihan akhirnya.
Bukankah ini suatu ironi?
Kenyataan yang dijadikan semacam fiksi.
Yang mengajarkan bahwa tindak kejahatan adalah wajar bagi kehidupan.
Iri hati yang kemudian dengki seakan akan menjerumuskan seseorang untuk berani melakukan pembunuhan.
Sungguh, lebih baik melihat film laga yang jelas menayangkan pembunuhan,
atau drama yang diselingi cinta terlarang dan juga persetubuhan.
Sebab film hanyalah sekadar hiburan,
bukan untuk dijadikan pedoman,
apalagi bagi orang-orang yang masih memiliki kepercayaan terhadap keyakinan.

Jenuh, bahkan hingga semakin muak saja aku merasa.
Bukan ingin menyalahkan media,
tetapi tak semua masyarakat di dunia memiliki pendidikan yang sama.
Beberapa tak bisa menyaring mana sesuatu yang opini,
dan mana sesuatu yang fakta.
Dan kurasa sudah terlalu banyak kebohongan siaran dalam media.
Hanya ingin menghebohkan, menggembor-gemborkan,
tanpa menerapkan moral dan etika di dalamnya.
Dan janganlah menyalahkan orang tua, apalagi psikologis manusianya.
Lihatlah secara nyata, seperti apa generasi muda sekarang karenanya.

Pamulang, Oktober 2017

Hujan dan Kepulangan

Hujan belum berhenti
Lelaki itu masih menanti
Senja, sepulang kerja,
awan gelap berteman setia dengan cakrawala
Hingga tak lama,
langit memuntahkan rintik air begitu saja
Dan lelaki itu masih setia,
menunggu hujan reda.

Hujan belum berhenti
Lelaki itu duduk sendiri
Halte menjadi tempat peristirahatan sejenak dari lelah,
pun bisa membawa kemana entah
Tapi kali ini lelaki itu tahu,
pulang lebih memberi kenyamanan.
Dan lelaki itu masih setia,
menunggu bus yang akan membawa.

Hujan sudah berhenti
Lelaki itu berdiri
Air cukup banyak menggenang
Jalan dipenuhi kendaraan yang lalu lalang,
tapi belum ada yang bisa membawanya pulang.
Dan lelaki itu masih setia,
menunggu kepulangannya.

Ciputat, Maret 2017