Kantuk Datang

Kapan kantuk datang?
Tanyamu padaku suatu ketika
Barangkali saat usianya sudah tua,
ia akan lelah dan merebah
Lalu mengajakmu memejam,
hingga pagi
dan membawa serta mimpi-mimpi.

Kapan kantuk datang?
Tanyamu lain hari
Kau terlihat tergesa,
tak sabar menanti datangnya
Kau sempat bercerita,
tentang mata yang setia terjaga
Padahal,
kau diam, membaca
Padahal,
kau bisu, mendengar lagu
Barangkali kantuk tak ingin ditunggu
Cobalah untuk menjemput!

Kapan kantuk datang?
Tanyamu berkali-kali
Aku memegang penyeranta, menekan tombol rupa-rupa
Timbul huruf, kata, tersusun kalimat tanya.
“Apa kau kan datang?” tanyaku menagih kepastian
Tak ada jawaban
Kosong, titik-titik terpampang jelas

Kapan kantuk datang?
Tanyamu terakhir kali, malam ini
Sebelum kau terkapar, dalam kamar
Lelah pada wajahmu hilang sudah
Sesak pada napasmu, beralih merupa dengkur
Nyenyak, begitu rasanya
Lalu pagi, membuatmu sadar kembali
Kantuk tak bisa kau temui, tatap muka,
sebab kau tak lagi terjaga

Kapan kantuk datang?
Tanyamu pada pagi
Bisa saja, kantuk sudah tiba,
saat kau tanya, kapan kantuk datang
Bisa saja, kantuk sudah tiba,
saat kau tulis sebelum sapa
Bahkan bisa saja, kantuk sudah tiba,
saat kau lelap, dan tak ingat apa-apa.

Pamulang, Agustus 2017

Nikmat Pagi

Matahari cukup terik
Tirai menutupi cahaya
Hening, bahkan tak berbisik
Lelaki itu belum terjaga

Antara pukul delapan menuju sembilan, hampir setiap hari, saya mulai membuka mata. Cukup siang memang, bagi mereka yang suka bepergian sejak fajar menampakkan diri. Saya, tak termasuk ke dalam golongan orang-orang semacam itu. Pagi, adalah waktu yang dipergunakan untuk memejamkan mata dan kembali bermimpi. Oleh karenanya, kadang mereka suka berkata, “Kau enak bisa bangun siang, tak perlu bermacet-macetan ke tempat kerja.” Saya akui bahwa itu memang menyenangkan, tapi sayangnya saya tak terlalu suka dengan hal itu. Sebab pagi punya kenikmatan tersendiri.

Saya tahu bagaimana nikmat pagi sebelum rutinitas seperti sekarang ini. Pukul lima bangun, berwudhu lalu salat subuh. Seperti kau ketahui, khususnya seorang muslim, air wudhu yang mengaliri tubuh, mulai dari wajah, tangan hingga kaki akan membuatmu segar dan kembali terjaga dan juga menenangkan. Berserah diri sejenak kepada Sang Pencipta untuk kemudian mandi pukul enam, yang membuat badan kembali bugar setelah diistirahatkan sejak malam. Sarapan, kadang sekadar roti diolesi mentega ditambah susu kental rasa cokelat, atau nasi goreng atau nasi uduk ditambah gorengan. Sungguh, itu adalah kenikmatan yang sekarang sering terlupakan sebab pekerjaan. Tapi untuk mengatasi kerinduan, nasi goreng dan nasi uduk pun biasanya menjadi menu makanan yang enak dimalam hari, terlebih kalau nasi uduknya disantap bareng dengan pecel ayam atau pecel lele.

Pagi akan sangat merugi jika segelas teh hangat tak tersedia. Tak terlalu manis, cukup saja, agar terasa rasa asli tehnya, itu untuk saya. Tapi bagi beberapa orang, seperti ayah saya, menyeruput kopi di pagi hari adalah kenikmatan baginya. Biasanya, selepas salat subuh, Mama-sebutan ibu di keluarga saya-membuatkan secangkir kopi hitam dicampur sedikit gula. Ayah tak suka sarapan, atau barangkali tak sempat. Diantara pukul enam hingga tujuh, ia sudah harus berangkat menuju kantor. Jadinya, teman setia saat meminum kopi adalah membaca sedikit berita melalui koran pagi langganan, yang sekarang sudah berhenti semenjak media online bisa dibaca dimana saja melalui telepon seluler kesayangan. Itulah sedikit nikmat pagi yang saya tahu, dahulu.

Bekerja dimulai dari pukul satu siang itu melelahkan. Menguap dan mengucek mata adalah salah satu aktivitas awal yang sering terlihat. Barangkali itu disebabkan oleh jam makan yang berubah. Antara pukul sepuluh menuju sebelas pagi, biasanya saya makan besar pertama kali setiap hari. Lalu mengecek email dan mengunduh data-biasanya berupa gambar-untuk dikerjakan di toko nantinya. Dilanjutkan mandi pukul dua belas, bersiap-siap, salat dzuhur, kemudian berangkat ke toko yang ditempuh kurang lebih lima belas menit. Selama kurang lebih tujuh jam, pekerjaan saya hanya duduk saja melihat ke arah layar laptop. Walau kadang ada waktunya berdiri sejenak jika ada pelanggan yang memang perlu dijelaskan beberapa hal mengenai kualitas bahan dan hasil produksi yang dipajang di toko. Perlu diketahui, duduk terlalu lama juga bisa sangat melelahkan dan tak baik bagi kesehatan.

Pukul sembilan malam adalah waktu yang ditetapkan untuk dapat kembali ke rumah. Kebiasaan baru yang tak baik setelah itu adalah makan besar. Anehnya, kebanyakan orang jadi mengantuk sehabis makan, tapi itu tak berlaku untuk saya hanya pada malam hari. Mungkin ini akibat kerja sama antara mata dan otak yang menolak tidur sehabis makan karena anggapan bahwa makan larut malam bisa membuatmu gendut, apalagi tertidur setelahnya. Karena hal itu, saya biasanya membunuh waktu dengan membaca buku kumpulan cerita atau novel yang belum sempat dibaca, atau menonton film di laptop sampai kantuk datang dan mengajak tidur.

Dini hari kini menjadi teman
Lelah, membuat tubuh tak nyaman
Resah, tidur pun susah
Menunggu mata, memejam tanpa diperintah

Belakangan, ada yang berubah. Beberapa kali minggu pagi, lebih kurang pukul tujuh, saya sudah terjaga. Padahal malamnya saya tak tidur cepat, masih dini hari, biasanya antara pukul satu hingga tiga. Bahkan minggu yang sering menjadi waktu untuk bertemu kekasih, pukul delapan biasanya saya terjaga, lalu berangkat pukul sepuluhnya. Saya berpikir, barangkali tubuh sudah bosan dengan rutinitas bangun siang. Barangkali tubuh rindu, meminum segelas teh manis hangat, lalu makan nasi goreng atau nasi uduk ditambah gorengan. Barangkali tubuh pun ingin merasakan keluar keringat sehabis olahraga-saya biasa bermain tenis meja dengan bapak-bapak tetangga di akhir pekan. Dan barangkali saja tubuh berusaha mengingatkan bahwa kesehatan adalah salah satu nikmat pagi yang harus dijaga. Atau barangkali, sebenarnya sayalah yang menyuruh tubuh melalui pikiran dan perasaan untuk merasakan kembali nikmat pagi pada diri, entahlah, saya beralasan.

Kotak Kosong

…………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………….

Akan tak terhitung seberapa banyak lagi titik-titik itu akan bermunculan. Ketika kau mengisinya dengan beberapa huruf, angka atau sekadar emoji, lalu berubah menjadi kata lalu kalimat lalu paragraf hingga akhirnya membentuk sebuah cerita dimana kau sebagai tokoh utamanya. Kau menekan tombol enter atau meng-klik pilihan yang menandakan bahwa apa yang kau tuliskan sudah selesai pada layar telepon pintarmu atau keyboard laptopmu. Setelah itu terbit, secara otomatis titik-titik yang biasanya ditampilkan sebagai kotak kosong itu akan kembali.

Bagi pengguna media sosial seperti Facebook atau Twitter, atau aplikasi chatting seperti BBM, akan sangat mengenal sebuah kotak kosong yang biasanya ditandai dengan kalimat ‘Apa yang kau pikirkan?’ atau ‘Apa yang sedang terjadi?’ Tertera jelas, kotak kosong itu barangkali hanya ingin mengetahui apa yang sedang dirasakan, dipikirkan bahkan dikenakan pada Sang Pemilik Akun. Tentu saja kotak kosong itu bukan sesuatu yang hidup, melainkan bentuk lain yang dihidupkan seakan-akan membuat kehidupan lain lebih hidup. Rumit? Mengerti? Lewati saja kalimat tadi! Cukup kau ketahui bahwa kotak kosong itu adalah teman, yang memberikan semacam pencerahan atau kelegaan kepada diri atas hal yang membebani kau saat ini.

Saya termasuk ke dalam orang yang berteman dengan kotak kosong-selanjutnya saya akan sebut dia Kokos, agar lebih akrab dan tak sama dengan sebutan baju yang biasa dipakai orang muslim. Kokos tak pernah mengeluh atas segala omongan, pemikiran dan perasaan yang saya curahkan kepadanya setiap hari, setiap beberapa jam, dan kadang pula setiap waktu-yang diukur dalam menit seringnya-kalau sedang ingin banyak berbicara. Barangkali sebab kecepatan penerbitan yang dimiliki, Kokos tak pernah merasa repot atau direpotkan. Dengan menekan tombol enterdone atau selesai-Kokos akan selalu kembali seperti semula, kosong.

Suatu kali pada kurun waktu tertentu, saya hanya bercerita tentang depresi dan kesedihan. Saya curiga, pada saat itu Kokos menganggap saya sebagai lelaki cengeng atau lelaki lemah. Lalu saya pun pernah menceritakan kepadanya tentang kehampaan dan kesendirian. Saya takut, pada saat itu Kokos merasa dia tak dianggap dan bukan menjadi seorang teman yang layak. Dan pada suatu waktu yang lain, saya banyak menulis cerita yang lebih pantas disebut fragmen, yang beberapa diantaranya tak pernah selesai atau dilanjutkan menjadi sebuah cerita yang utuh. Semoga saja Kokos tetap mendoakan saya untuk menjadi seorang penulis.

Seperti pada umumnya mahkluk ciptaan Tuhan, dan atau yang berpura-pura menjadi Tuhan, Kokos pun tumbuh dan berkembang. Sekarang, Kokos bisa melakukan hal lain, contoh menggugah foto dan video, membagikan laman, dan merupa emoji yang menggambarkan perasaan. Saya senang, kemampuan itu memberi saya kemudahan dalam berbagi informasi kepada sesama pengguna media sosial. Barangkali, itulah makna pentingnya dari suatu kedewasaan.

Apa yang kau pikirkan?
………………………………….
Kau menatap terlalu lama
Apa barangkali,
malu mengungkap rasa?
takut menulis pikir?
Kotak kosong, kan selamanya hampa
Jika kau menatap terlalu lama.

Tak mudah menjawab pertanyaan ‘Apa yang kau pikirkan?’ bagi beberapa orang. Dalam media sosial, semua harus diperhitungkan. Saya, seringkali tak jadi menerbitkan status-bahasa lainnya-karena suatu alasan semacam; takut ada yang tersinggung atau salah paham, takut menjadi tak disukai seseorang dan takut memulai kebencian dan pemikiran yang salah. Seperti kata pepatah, ‘apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai.’

Memang, Kokos adalah teman yang baik, tapi ada ungkapan, ‘sebaik-baiknya teman adalah teman nyata.’ Kokos tinggal di media sosial, dimana rasa peduli, simpati dan empati kebanyakan digunakan sebagai topeng kepura-puraan atau sekadar dijadikan jalan menuai pujian. Apa yang kau tuliskan pada Kokos memang melegakan, membuat nyaman, tapi akan ada masanya dimana kau merasa sangat butuh pelukan dan sandaran. Apa yang kau tuliskan pada Kokos, nantinya tetap akan bisa kau atur, entah itu sunting, tak terlihat bahkan hapus. Itu menjadikanmu bukan sebagai seorang teman, melainkan seorang Tuan. Satu hal lainnya, Kokos, Sang Kotak Kosong, akan selalu kembali kosong saat kau selesai menulis pada tubuhnya. Seakan-akan segala yang kau ceritakan hanyalah angin lalu baginya. Dan saya yakin, setiap orang tak menginginkan teman semacam itu.