Tempat Pulang

Usai memarkir motor di halaman rumah, saya membuka pintu lalu duduk sejenak di ruang tamu untuk beristirahat. Lebih kurang sepuluh menit setelahnya, saya berdiri lalu berjalan menuju kamar untuk menaruh tas dan laptop. Mengambil handuk lalu mandi. Selesainya, memakai kaos lengan panjang, atau kadang baju koko, lalu salat isya. Selesainya, pergi ke dapur, memasak air panas, menyeduh susu, lalu membawanya ke kamar untuk menemani saya membaca beberapa email, merapikan data dan menyiapkan bahan untuk dikerjakan esok hari. Menonton satu dua episode anime yang diikuti musim ini. Selesainya, menaruh gelas di dapur, kembali ke kamar lalu kemudian merebahkan badan untuk kemudian tidur. Berikut adalah apa yang saya bayangkan setiap harinya selepas pulang kerja. Tapi ternyata kenyataan kadang tak serta merta seperti harapan.

Pukul sepuluh malam biasanya saya sudah sampai di rumah, kecuali jika ada hal-hal yang diluar kendali. Memarkir motor di depan gerbang rumah, kemudian berjalan menuju Caffedut, warung kopi yang didirikan tetangga di rumahnya, hanya buka dari sehabis isya hingga malam pukul dua dan berjarak tak lebih dari dua rumah. Semangkuk mie rebus dan segelas es kopi biasanya menjadi andalan saya disana. Walau begitu, untuk menghilangkan kejenuhan, persoalan minuman kadang saya suka ganti dengan es teh leci, nutrisari jambu atau es susu, tapi menu makanan selalu sama. Kadang ditambah gorengan seperti tempe dan tahu isi yang menjadi lauk pelengkap, dan kerupuk tak lupa.

Saya merasa aneh, mungkin kau-yang senasib sepenanggungan-juga akan berpikiran yang sama. Kenapa makan mie rebus atau mie goreng di warung kopi terasa lebih lezat dan menggugah selera? Padahal kalau dilihat di dapurnya yang bisa terlihat jelas dari tempat yang kau duduki, cara memasaknya sama saja, yang membedakan hanya tangan Sang Pemasak. Kalau kata orang-orang yang suka berpikiran negatif, ‘mungkin warung itu pakai penglaris.’ Saya kurang setuju dengan hal itu, cobalah berpikiran baik, alasan kenapa warung kopi itu selalu ramai dikunjungi, karena sebagian masyarakat Indonesia tak hidup dalam kemewahan. Ini bukan tentang warung kopi atau kafe-dengan nama kerennya-yang banyak ditemui di jalan-jalan utama dan pusat perbelanjaan, tapi warung kopi yang pelanggannya kebanyakan para pekerja kasar, pegawai rendahan dan kadang mahasiswa yang uang jajannya seadanya atau telat mendapat pengiriman. Jadi, saya pikir yang namanya penglaris-mungkin memang ada-itu omong kosong. Kalaupun misalnya warung kopi mengalami kerugian, itu bukan karena tak laku, tapi karena kebanyakan pelanggannya adalah para jagoan penghutang.

Lupakan tentang warung kopi dan segala permasalahannya! Saya kembali ke rumah, memasukkan motor ke garasi yang sejak tadi hanya diparkir di depan rumah. Duduk di ruang keluarga, menonton Dunia Terbalik. Serial televisi yang menghibur dan menceritakan realita yang ada. Saya pikir sebaiknya para stasiun televisi harus lebih banyak menayangkan program semacam itu. Lebih mendidik dan memberikan gambaran bahwa inilah keadaan negara saat ini. Selesainya, saya mandi, lalu salat isya. Tak lama menyalakan laptop, untuk membaca beberapa email, merapikan data dan menyiapkan bahan untuk dikerjakan esok hari. Menonton satu dua episode anime yang diikuti musim ini. Kemudian bukan ke dapur untuk membuat susu atau tidur seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Saya membuka beberapa laman, lebih sering Twitter dan Facebook, juga beberapa blog para penulis Indonesia. Pada suatu klik yang tak disengaja, laman itu muncul tepat di depan mata. Saya terdiam beberapa lama, menyadari bahwa blog saya sudah ditinggalkan terlalu lama.

Lebih kurang enam bulan, saya mengembara. Perlu diketahui, ini bukan tentang perjalanan berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain, tapi seandainya bisa, saya akan lebih memilih hal itu. Ini jauh berbeda, hanya tentang pencarian jati diri, begitu mulanya. Secara fisik, saya diam, statis, tak bergerak dalam jangkauan lebih dari dua puluh kilometer, hanya berputar di kota tempat saya tinggal. Secara rohani, ada sedikit perkembangan, setidaknya lebih bisa mengikhlaskan diri dan mensyukuri apa yang dimiliki, dan bersikap dewasa pun bijak dalam bertindak.

Apa yang dimaksud dengan pengembaraan ini adalah langkah yang saya ambil guna mempelajari kemampuan diri, terutama dalam hal menulis, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Tapi seperti pada kasus yang sudah-sudah, ternyata semua itu berjalan dengan tak baik. Banyak keraguan yang datang secara serentak, sialnya itu bermula dari hasil pembacaan penulis-penulis berkelas yang karyanya membuat saya tak percaya diri dan mengganggap apa yang baru saya kerjakan ini sebagai sampah yang bahkan tak layak untuk dibaca orang banyak. Ditambah dengan kehidupan keuangan yang tak baik, sebab bisnis yang saya jalani ternyata tak memberikan profit selama berbulan-bulan. Dari situ saya percaya, uang memanglah bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Sebab itulah, saat ini saya lebih memilih fokus bekerja untuk memperbaiki keadaan keuangan terlebih dahulu.

Melihat blog yang terbengkalai membuat saya tersadar bahwa selama ini saya merasa belum benar-benar pulang. Walaupun rumah yang saya tinggali adalah rumah sebagai tempat kepulangan, tempat yang nyaman untuk merebah, menghilangkan lelah, saya tetap merasa kurang. Ada kalanya saya butuh suatu tempat yang bebas digunakan untuk bercerita, berpendapat, berimajinasi dan berdamai dengan diri sendiri. Sebab banyak yang bilang bahwa segala hal yang menjadi beban pikiran dan tak menyangkut rahasia terdalam harus diutarakan, agar menghilangkan stres berkepanjangan. Mungkin saja, hal itulah yang membuat saya beberapa malam ini tak bisa tidur dengan nyenyak. Tak bisa seperti apa yang saya bayangkan dalam cerita sebelumnya. Ada resah dan gelisah yang ingin diceritakan agar hilang semua gundah. Ada tempat yang merindu kedatangan saya kembali. Rumah yang sejak dibeli empat tahun lalu diperuntukkan sebagai tempat pulang kedua bagi saya. Seperti warung kopi yang dijadikan rumah kedua bagi mereka-mereka, lelaki perantau yang rindu kampung halaman.