Paragraf Pembuka

Laptopmu yang sebelumnya sedang dalam mode sleep tiba-tiba menyala seiring dengan matamu yang baru saja terjaga. Layarnya menampakkan background putih yang berasal dari program Microsoft Word yang terbuka dengan halaman baru yang tidak benar-benar baru. Dari kejauhan, kau hanya akan mendapati semacam garis kecil putus-putus yang jika kau dekati dan perhatikan dengan benar, sesungguhnya akan tampak jelas, terdapat sebuah kalimat yang tertulis kecil, barangkali menggunakan ukuran font sebesar 12 pt, bertuliskan,

Tidur lama tidak akan membuat tulisanmu jadi, kau hanya pandai mencari alasan demi alasan sehingga tidak akan pernah ada karya baru yang kau ciptakan.”

Perlu waktu beberapa menit untuk kau tersadar, bahwa sebelumnya kau ingat betul laptop yang kau taruh di meja kecil di sisi tempat tidurmu sudah kau matikan dan layarnya kau tutup. Penasaran dengan hal itu, kau mendekatinya dan membaca sebuah kalimat yang kau kira garis putus-putus sebelumnya. Kau tersentak, siapa yang berani menulis kata-kata seperti itu saat kau tidur siang, anggapanmu. Dengan sedikit kesal kau bangkit, menuju pintu yang ternyata masih terkunci dari dalam. Kau diam, kaku, tiba-tiba saja bulu kudukmu berdiri dan rasa takut menghampirimu saat itu juga.

***

Tiga jam sebelumnya, kau hampir putus asa, malas untuk melanjutkan tulisan yang sebenarnya belum satu pun kalimat tertuliskan. Kau pusing, sebab berusaha memikirkan kalimat pembuka yang baik, karena dipikiranmu, tulisan itu harus menjadi sebuah karya berkualitas yang nantinya akan membuat baik namamu. Tapi sedari tadi, kau bahkan tidak bisa menciptakan satu dua kalimat sama sekali.

Kau membuka-buka kembali buku yang sempat kau beli beberapa tahun yang lalu. Ya, dulu kau sangat bersemangat menulis cerita, hingga pada suatu waktu, saat kau merasa duniamu sedang tidak baik-baik saja, kau memutuskan untuk berhenti menulis, bahkan membaca saja hanya kurang dari 10 buku di tahun sebelumnya. Buku itu berjudul Creative Writing, ditulis oleh salah satu penulis Indonesia yang namanya sudah cukup terkenal dan biasa menjadi juri sebuah perhelatan sastra di Indonesia, A.S. Laksana. Dengan membacanya, kau berpikir, setidaknya bisa sedikit mahir menulis dengan membaca buku itu secara keseluruhan, karena kau tahu, bahwa menjadi seorang penulis terkenal itu membutuhkan waktu dan pengalaman yang sangat banyak agar orang-orang bisa mengapresiasi karyamu dengan sangat mengangumkan.

Seperti halnya kau mengendarai kendaraan, misalnya kau mengidap sebuah penyakit yang memutuskan bahwa kau tidak boleh menyupiri dirimu sendiri saat bepergian selama lebih dari setahun, kau meyakini bahwa akan sangat sulit mengendarai kendaraan itu karena tubuhmu sudah terlalu kaku dan tidak tanggap melakukan gerakan ini dan itu. Lalu, kau menghubung-hubungkan kasusmu itu dan beranggapan bahwa kau terkena writer’s block, istilah yang sengaja kau buat-buat agar meneguhkan diri bahwa memang saat ini kau tidak mempunyai ide untuk membuat sebuah tulisan.

Satu jam berselang, kau masih termenung, menatap layar laptopmu yang menampilkan halaman baru Microsoft Word yang masih kosong, hanya kursor yang sedari tadi betah berkedip-kedip. Satu kata pun belum tertuliskan apalagi kalimat pembuka yang bagus, indah dan dapat langsung menarik perhatian pembaca tulisanmu nanti. Akhirnya kau memutuskan untuk beristirahat, merebahkan tubuhmu di kasur lalu mengambil ponsel. Mengecek beberapa notifikasi yang masuk, bukan sebuah chat, hanya mention dari teman Twitter-mu sebagai balasan atas tanggapanmu di twitnya

Di Twitter, kau banyak menemukan hal menarik, mulai dari kegalauan, kebencian bahkan kelucuan yang dibuat-buat guna menaikkan followers yang kadang bisa saja bagaikan pedang bermata dua. Sekarang ini, warganet, sebutan bagi para pengguna aktif internet sangat-sangat sensitif dengan berbagai hal, terutama masalah politik dan agama. Bahkan kadang yang dianggap sesuatu yang positif pun bisa saja dinyinyirin begitu saja, seolah-olah apa yang dilakukan setiap orang hanya untuk pencitraan atau apapun itu sebutannya. Beruntung, akunmu hanya berisi postingan-postingan kata-kata menyerupai sajak atau fragmen sebuah cerita yang alur dan penokohannya sangat tidak jelas dan biasa-biasa saja. Itu setidaknya membuatmu terlindung dari hal-hal yang akan merepotkanmu ke depannya. Tetapi yang menjadi ironi, dan membuat kau bertanya-tanya, di Twitter kau bisa mencipta puisi dan cerita, tetapi saat akan menulis di blog, tiba-tiba saja kau seperti hilang kesadaran dan merasa ketakutan jika karyamu itu merupakan tulisan yang buruk dan dikomentari sedemikian rupa.

Memikirkan hal itu semakin membuatmu stres dan malas untuk melanjutkan menulis sebuah cerita. Kau mengeset alarm dan menaruh ponsel di sisimu. Kau berpikir, barangkali dengan tidur barang sejenak bisa memberikan kesegaran pikiran dan ide-ide berdatangan saat kau terbangun nanti, yang ternyata malah membikin kau dilanda kecemasan dan ketakutan yang membuatmu mematung cukup lama hingga akhirnya bisa membuka pintu, lalu lari ke luar dari kamarmu. Menuruni tangga, sebab kamarmu berada di lantai dua. Memanggil-manggil ibumu yang kau tahu biasanya berada di dapur untuk memasak makan malam. Menghampirinya ke dapur, menepuk pelan punggungnya, dan saat ibumu menoleh kau sangat terkejut dan terjengkang, sampai merasakan kesakitan, yang akhirnya membuat kau benar-benar membuka matamu, dan melihat ke sekitar, ternyata kau terjatuh dari kasur dan masih mendapati laptopmu dalam keadaan mati dan berada di meja kecil di sisi tempat tidurmu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *