Status Facebook

Penyair dalam diriku lebih memilih tidur lebih lama, Nona. Sebab kata, belakangan kehilangan cintanya, ia lebih sering berpropaganda.

Facebook, belakangan menjadi tempat untuk saya kembali menuliskan ide, opini, puisi, pemikiran dan bahkan ceracauan. Tak ada hal khusus sebenarnya, hanya saja Facebook masih sangat baik untuk dijadikan sarana berbagi cerita dan masih menarik untuk dijelajahi lebih jauh, terlebih mengenai apa yang orang lain bagikan dalam kolom yang biasa dikenal status.

Beruntung saya memiliki banyak pertemanan-lebih tepat 1227 orang- yang biasanya terdiri dari teman masa sekolah dan kuliah, teman rumah atau tetangga, teman chatting dan tentu saja saudara. Jadi saya bisa dengan mudah menikmati apa yang mereka bagi dan ceritakan dalam statusnya. Tapi sayangnya, sekarang ini saya meyakini bahwa beberapa diantara seribu orang teman tersebut sudah tak menggunakan Facebook lagi. Barangkali lantaran;

Kecewa
Seperti kau ketahui, mulanya Facebook dijadikan sebagai ajang mencari teman baru atau sarana berkomunikasi yang efektif dengan teman lama yang tak kunjung bertemu. Membaca status dan melihat foto-foto yang diunggah kadang bisa menuntaskan rindu, dan kadang pula membuat hati berkecamuk dari biasanya dan kemudian salah paham. Misalnya saja suatu ketika gebetan atau teman dekatmu membuat status yang kau kira itu adalah untukmu. Kau merasa sangat bahagia dan berharap lebih dia akan menjadi milikmu, hingga tak berapa lama ia mengunggah foto yang ternyata di dalamnya terlihat ia begitu dekat dan mesra bersama seseorang. Kau patah hati dan akhirnya demi kenyamanan diri menutup akun dan bahkan menghapusnya.

Sudah Bosan
Bagi mereka yang berusia sebanding dengan saya atau diantaranya, barangkali sudah merasakan bermain Facebook pada masa jayanya. Walau sekarang ini sudah banyak fitur tambahan yang menarik guna menyaingi media sosial lainnya, tetap saja beberapa orang mulai merasa bosan karena sudah merasa puas dan bermain terlalu lama, sehingga mereka beralih ke media sosial masa kini. Dan barangkali yang juga menjadi hal membosankan bagi beberapa orang, adalah Facebook sering digunakan sebagai tempat berjualan. Sebenarnya itu sah-sah saja, tapi kembali ke mulanya, perbincangan dan diskusi dengan teman lama berkurang karena mereka tak nyaman timeline-nya dipenuhi orang barang dagangan hingga akhirnya memutuskan menutup akun dan tak akan kembali.

Memiliki Keluarga Baru (Alias Menikah)
Status-status yang berupa kode kepada kegebetan, tulisan-tulisan pada note yang menceritakan hubungan cinta dengan pacar dan juga momen-momen kebersamaan yang mesra berupa foto-foto, yang kini hanya menjadi kenangan sebab pada akhirnya hanya menjadi mantan, itu harus dihapuskan atau bahkan dihilangkan agar tak ketahuan jejaknya. Itulah barangkali yang menjadi dasar mengapa banyak teman yang sudah menikah untuk berhenti bermain Facebook. Kalaupun ada, biasanya mereka membuat akun baru untuk memberitahu bahwa dia sudah punya kehidupan yang baru.

Terlepas dari semua alasan yang sudah dijelaskan, Facebook tetap menjadi andalan saya untuk menikmati kehidupan yang membosankan. Membaca status yang dituliskan beberapa teman adalah salah satu hal menyenangkan yang menjadi semacam hiburan hingga kadang membuat kita bertanya-tanya dan berpendapat entah baik maupun buruk. Saya meyakini bahwa kau juga setuju bahwa bermusuhan dan berjauhan dengan teman, itu tak baik. Tapi begitulah kehidupan, kita tak bisa membuat orang lain selalu mengerti apa yang kita mau.

Pada beberapa kasus yang sudah lama, terutama pilkada, beberapa orang teman dalam Facebook terbawa suasana. Mereka jadi berpikir yang tidak-tidak, juga menyebarkan berita yang belum tentu benar adanya, dan yang paling parah dan membuat saya muak adalah rasa kebencian yang tertulis pada status mereka. Ada yang bilang biarkan saja mereka seperti itu, tapi menurut saya memiliki seorang teman seperti itu tak ada faedahnya, jadi mau tak mau saya harus meng-unfriend mereka dari pertemanan.

Hasil nyata yang terjadi akibat kasus yang sudah-sudah, entah itu hoax atau black campaign, adalah warganet menjadi semakin baper. Contohnya saja pada kasus yang baru ini terjadi, tentang status Facebook seorang wartawan yang membandingkan dua tokoh politik pemerintahan membuat dia dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik. Padahal kalau dicermati, apa yang dia tuliskan pada status adalah fakta dan dengan sumber tepercaya. Jadi saran saya, demi mencari jalan aman, sebaiknya jangan terlalu memedulikan apa yang di-posting seseorang, apalagi berkomentar yang tidak-tidak sebelum tahu faktanya. Seperti kata Budi Darma dalam bukunya yang berjudul Orang-Orang Bloomington; “Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain. Hanya dengan jalan demikian, kita dapat tenang.”

Berdasar dari pengalaman itulah saya lebih sering menuliskan apa yang ada di pikiran saya-baik itu puisi, semacam sajak, opini singkat, ceracau sarat makna maupun kejadian sehari-hari-mengenai kehidupan yang saya jalani ketimbang harus mencaci maki dan menasihati orang lain seakan-akan dirimu yang paling benar sendiri. Biarkan orang berasumsi dan berpikir tentang saya ini dan itu, karena memang status Facebook sesungguhnya adalah sarana cerminan diri atau sarana pembohongan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *