Hujan dan Kepulangan

Hujan belum berhenti
Lelaki itu masih menanti
Senja, sepulang kerja,
awan gelap berteman setia dengan cakrawala
Hingga tak lama,
langit memuntahkan rintik air begitu saja
Dan lelaki itu masih setia,
menunggu hujan reda.

Hujan belum berhenti
Lelaki itu duduk sendiri
Halte menjadi tempat peristirahatan sejenak dari lelah,
pun bisa membawa kemana entah
Tapi kali ini lelaki itu tahu,
pulang lebih memberi kenyamanan.
Dan lelaki itu masih setia,
menunggu bus yang akan membawa.

Hujan sudah berhenti
Lelaki itu berdiri
Air cukup banyak menggenang
Jalan dipenuhi kendaraan yang lalu lalang,
tapi belum ada yang bisa membawanya pulang.
Dan lelaki itu masih setia,
menunggu kepulangannya.

Ciputat, Maret 2017

Merindumu, Tak Mudah

Apa aku selalu beralasan?
Pikirku berulang kali
Barangkali dua bulan,
bahkan lebih,
kita tak berada dalam ruang yang sama,
bertatap muka
Aku mengingat,
terakhir kali kita pergi ke Kota Tua
Apa benar?
Jika salah, sebaiknya kau marah
Agar ada kepercayaan bahwa kita benar benar kita.

Barangkali benar,
aku terlalu banyak beralasan
Tentang keuangan yang lagi goyah
Tentang keadaan yang tak mudah
Tentang waktu yang tak membuat kita searah
dan,
Tentang kita yang selalu mengalah,
bahkan merasa kalah.

Aku terlalu banyak beralasan
Aku tahu benar,
bahwa kau kekasih yang penyabar
Lalu, aku dengan bodohnya membuatmu kecewa suatu kali,
kala aku terjebak dalam kebencianku terhadap diri sendiri
Kau merindu lebih banyak,
hidupku menjadi lebih layak
Tapi merindumu, tak mudah,
aku membantah.

Pamulang, Oktober 2017

Tentang Dua Lelaki

Lelaki Pukul Satu

Matanya tak lelah menatap layar.
Sedari pagi ia sudah berteman setia membuat gambar.
Katanya, belakangan hari otaknya bekerja terlalu giat.
Padahal ia tidak minum obat kuat.
Jumat telah lewat, sabtu tetap tak bisa istirahat.
Ia menyortir beberapa kertas, cerita kecil yang cukup pantas.
Tapi meragu sudah menjadi satu dalam tubuh.
Beberapa kali ia berpura-pura, agar orang lain menjadi suka.
Dan kebodohan itu akhirnya ia sadari, pada pukul satu dini hari.
Matanya terus menatap layar.
Belajar, agar tak lagi ditipu oleh kebodohan.

Pamulang, Juli 2017

 

Lelaki yang Menaruh Kepalanya

Menjelang dini hari
Gaduh di kepala membuat pusing
Lelah, mata tetap terjaga, hitam disekitarnya
Ingin bermimpi, yang indah-indah, bahkan basah
Tapi gaung menyesaki rongga
Pukul dua, lelaki itu terbangun
Berdiri di sisi ranjang
Melaju, menuju dapur
Dibuka pintu kotak pendingin
Lelaki itu tersenyum, pikiran dingin menenangkan
“Semoga aku bisa bermimpi,” katanya.

Pamulang, Agustus 2017