Kopi Dingin

Tak ada gelas kedua
cukup satu teman setia
Kopi
dingin lebih bisa dinikmati
Hitam, memaksa perut bergemuruh
lalu, ke kamar mandi
lagi-lagi
Aku tak mencari kafein
Seteguk cukup sudah
penghilang lelah
Warung kopi sejatinya tempat bercengkrama
Berbagi cerita
entah cinta
pun kadang cara kerja semesta
Bahkan, rindu sesekali duduk di sudut
Pada lelaki yang menatap kopi
lamat-lamat
Atau senyum misterius
sebab menyesap
Tak ada gelas kedua
cukup satu
kopi dingin malam ini
Aku hanya ingin terjaga
dini hari
tak sampai pagi.

Pamulang, Agustus 2017

Kantuk Datang

Kapan kantuk datang?
Tanyamu padaku suatu ketika
Barangkali saat usianya sudah tua,
ia akan lelah dan merebah
Lalu mengajakmu memejam,
hingga pagi
dan membawa serta mimpi-mimpi.

Kapan kantuk datang?
Tanyamu lain hari
Kau terlihat tergesa,
tak sabar menanti datangnya
Kau sempat bercerita,
tentang mata yang setia terjaga
Padahal,
kau diam, membaca
Padahal,
kau bisu, mendengar lagu
Barangkali kantuk tak ingin ditunggu
Cobalah untuk menjemput!

Kapan kantuk datang?
Tanyamu berkali-kali
Aku memegang penyeranta, menekan tombol rupa-rupa
Timbul huruf, kata, tersusun kalimat tanya.
“Apa kau kan datang?” tanyaku menagih kepastian
Tak ada jawaban
Kosong, titik-titik terpampang jelas

Kapan kantuk datang?
Tanyamu terakhir kali, malam ini
Sebelum kau terkapar, dalam kamar
Lelah pada wajahmu hilang sudah
Sesak pada napasmu, beralih merupa dengkur
Nyenyak, begitu rasanya
Lalu pagi, membuatmu sadar kembali
Kantuk tak bisa kau temui, tatap muka,
sebab kau tak lagi terjaga

Kapan kantuk datang?
Tanyamu pada pagi
Bisa saja, kantuk sudah tiba,
saat kau tanya, kapan kantuk datang
Bisa saja, kantuk sudah tiba,
saat kau tulis sebelum sapa
Bahkan bisa saja, kantuk sudah tiba,
saat kau lelap, dan tak ingat apa-apa.

Pamulang, Agustus 2017