Rendah Gairah

Aku tak lelah, hanya rendah gairah
Kau tahu, itu berbeda, ya, berbeda
Seumpama kau merebah, sebab lelah
Kau diam, bingung, menerawang ke segala arah
Kau tak patah, hanya, entah
Lebih kurang lima hari, sejak hari disebut merdeka
Tapi aku, tak pernah merdeka
Dan kupikir, tak ada kemerdekaan dalam semesta ini
Sebab Tuhan segala pemilik diri
Kau diatur oleh-Nya, bahkan menyoal hati
Seperti kau mungkin pernah dengar
Tuhan Maha Pembolak-balik Hati
dan urusan lain seperti mati
Kau tahu suatu saat pasti mati, tapi tak pasti
Dan kupikir-pikir, gairahku saat ini pun sama
sedang dipermainkan
Bahkan sesekali aku membaca sastra wangi
-yang katanya berisi seks dan berahi
Gairah tak kunjung datang
Aku tak lelah, hanya rendah gairah
Kau tahu, itu berbeda, ya berbeda

Anggap saja ceracau saya itu semacam puisi yang mengisyaratkan kegelisahan diri. Seperti yang kau baca sebelumnya, ternyata rendah gairah ini masih setia menemani sejak lima hari dari tanah air dikatakan merdeka. Padahal sabtu kemaren, di lingkungan Rukun Warga baru saja diselenggarakan malam puncak tujuh belasan. Saya terhibur, oleh nyanyian, tarian dan semangat para pemuda-pemudi yang tampil di panggung, dan juga cukup senang karena mendapatkan door prize kecil-kecilan. Tapi terlepas dari semua itu, saya masih merasa rendah gairah. Ada yang salah, ya, ada yang salah pada diri saya.

Kau pasti setuju, jika mendengar kata gairah, itu dimaksudkan pada hal yang bersangkutan dengan berahi dan seksualitas. Tapi saya membantah, rendah gairah yang saya rasakan bukan menyangkut kepada hal itu. Saya akui pada beberapa hari sebelumnya saya mencoba menonton film porno untuk membangkitkan gairah dan kepuasan pada diri, hasilnya sama saja, semangat tak membara. Walaupun pada saat dan setelah menonton, saya merasa sedikit “berbeda”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa apa yang saya rasakan saat ini bukanlah gairah seksual semacam itu.

Seorang teman berkata, mungkin saja saya berada dalam tahap kebosanan teramat sangat atau terkecewakan oleh harapan. Jika saya asumsikan gairah sebagai semangat atau hal-hal yang membuat diri termotivasi, saya akan setuju dengan pernyataan itu. Bosan, jenuh atau apapun itu sebutannya, benar-benar mengonsumi sebagian besar pikiran dan perasaan. Misalnya saja ketika kau bosan dengan pekerjaan, kau akan berusaha lebih keras-bahkan lebih pandai-menghilangkan kebosanan dengan mengambil-mencuri-sedikit waktu mengalihkan pikiran dari apa yang sedang kau kerjakan. Entah itu bermain game atau chatting bersama teman demi membangkitkan gairah.

Lain hal jika menyangkut harapan, sesungguhnya harapanlah yang seharusnya membuat gairah menjadi tinggi, tapi bagaimana jika harapan itu tak terpenuhi? Tak semua orang bisa menghadapi segala hal yang terjadi pada dirinya secara cepat, terutama saat tertimpa keburukan, contohnya saya. Saat diketahui bahwa saya mengidap gangguan jantung sejak masa tingkat akhir kuliah dan segala hal menjadi tak sama, saya selalu merasa bahwa Tuhan itu “ngga asik”. Beberapa hal terasa sulit, baik secara fisik maupun mental, terlebih diawal masa kelulusan. Saya menjadi seorang laki-laki yang bisa dibilang lemah dan pesimis. Bahkan di beberapa kesempatan saya akan selalu merasa tak ikhlas dengan keadaan. Hampir lima tahun saya baru menyadari dan mensyukuri, bahwa segala hal yang berkaitan dengan harapan adalah kehendak Tuhan. Sekeras apapun kau berjuang, Tuhanlah yang menentukan. Dan saya merasa, rendah gairah yang saya alami saat ini menuju ke masa lalu, kekecewaan.

Terjebak masa lalu adalah suatu kebodohan. Dan bodohnya lagi saya sekarang menjadi orang bodoh. Saya terus beralasan, rendah gairah ini tanpa sebab alasan yang pasti. Tapi saya sadar bahwa kerendahan ini didasarkan pada kembalinya keluhan dan diri yang sedang jauh dari Tuhan. Karena itulah, selama beberapa hari saya membaca buku dan menonton film, menjadi percuma jika pikiran dan perasaan terganggu oleh keluhan. Dan tentu saja rendah gairah itu akan terus dirasakan sampai saya bisa memaafkan diri sendiri dan mensyukuri segala yang Tuhan telah beri.