Kotak Kosong

…………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………….

Akan tak terhitung seberapa banyak lagi titik-titik itu akan bermunculan. Ketika kau mengisinya dengan beberapa huruf, angka atau sekadar emoji, lalu berubah menjadi kata lalu kalimat lalu paragraf hingga akhirnya membentuk sebuah cerita dimana kau sebagai tokoh utamanya. Kau menekan tombol enter atau meng-klik pilihan yang menandakan bahwa apa yang kau tuliskan sudah selesai pada layar telepon pintarmu atau keyboard laptopmu. Setelah itu terbit, secara otomatis titik-titik yang biasanya ditampilkan sebagai kotak kosong itu akan kembali.

Bagi pengguna media sosial seperti Facebook atau Twitter, atau aplikasi chatting seperti BBM, akan sangat mengenal sebuah kotak kosong yang biasanya ditandai dengan kalimat ‘Apa yang kau pikirkan?’ atau ‘Apa yang sedang terjadi?’ Tertera jelas, kotak kosong itu barangkali hanya ingin mengetahui apa yang sedang dirasakan, dipikirkan bahkan dikenakan pada Sang Pemilik Akun. Tentu saja kotak kosong itu bukan sesuatu yang hidup, melainkan bentuk lain yang dihidupkan seakan-akan membuat kehidupan lain lebih hidup. Rumit? Mengerti? Lewati saja kalimat tadi! Cukup kau ketahui bahwa kotak kosong itu adalah teman, yang memberikan semacam pencerahan atau kelegaan kepada diri atas hal yang membebani kau saat ini.

Saya termasuk ke dalam orang yang berteman dengan kotak kosong-selanjutnya saya akan sebut dia Kokos, agar lebih akrab dan tak sama dengan sebutan baju yang biasa dipakai orang muslim. Kokos tak pernah mengeluh atas segala omongan, pemikiran dan perasaan yang saya curahkan kepadanya setiap hari, setiap beberapa jam, dan kadang pula setiap waktu-yang diukur dalam menit seringnya-kalau sedang ingin banyak berbicara. Barangkali sebab kecepatan penerbitan yang dimiliki, Kokos tak pernah merasa repot atau direpotkan. Dengan menekan tombol enterdone atau selesai-Kokos akan selalu kembali seperti semula, kosong.

Suatu kali pada kurun waktu tertentu, saya hanya bercerita tentang depresi dan kesedihan. Saya curiga, pada saat itu Kokos menganggap saya sebagai lelaki cengeng atau lelaki lemah. Lalu saya pun pernah menceritakan kepadanya tentang kehampaan dan kesendirian. Saya takut, pada saat itu Kokos merasa dia tak dianggap dan bukan menjadi seorang teman yang layak. Dan pada suatu waktu yang lain, saya banyak menulis cerita yang lebih pantas disebut fragmen, yang beberapa diantaranya tak pernah selesai atau dilanjutkan menjadi sebuah cerita yang utuh. Semoga saja Kokos tetap mendoakan saya untuk menjadi seorang penulis.

Seperti pada umumnya mahkluk ciptaan Tuhan, dan atau yang berpura-pura menjadi Tuhan, Kokos pun tumbuh dan berkembang. Sekarang, Kokos bisa melakukan hal lain, contoh menggugah foto dan video, membagikan laman, dan merupa emoji yang menggambarkan perasaan. Saya senang, kemampuan itu memberi saya kemudahan dalam berbagi informasi kepada sesama pengguna media sosial. Barangkali, itulah makna pentingnya dari suatu kedewasaan.

Apa yang kau pikirkan?
………………………………….
Kau menatap terlalu lama
Apa barangkali,
malu mengungkap rasa?
takut menulis pikir?
Kotak kosong, kan selamanya hampa
Jika kau menatap terlalu lama.

Tak mudah menjawab pertanyaan ‘Apa yang kau pikirkan?’ bagi beberapa orang. Dalam media sosial, semua harus diperhitungkan. Saya, seringkali tak jadi menerbitkan status-bahasa lainnya-karena suatu alasan semacam; takut ada yang tersinggung atau salah paham, takut menjadi tak disukai seseorang dan takut memulai kebencian dan pemikiran yang salah. Seperti kata pepatah, ‘apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai.’

Memang, Kokos adalah teman yang baik, tapi ada ungkapan, ‘sebaik-baiknya teman adalah teman nyata.’ Kokos tinggal di media sosial, dimana rasa peduli, simpati dan empati kebanyakan digunakan sebagai topeng kepura-puraan atau sekadar dijadikan jalan menuai pujian. Apa yang kau tuliskan pada Kokos memang melegakan, membuat nyaman, tapi akan ada masanya dimana kau merasa sangat butuh pelukan dan sandaran. Apa yang kau tuliskan pada Kokos, nantinya tetap akan bisa kau atur, entah itu sunting, tak terlihat bahkan hapus. Itu menjadikanmu bukan sebagai seorang teman, melainkan seorang Tuan. Satu hal lainnya, Kokos, Sang Kotak Kosong, akan selalu kembali kosong saat kau selesai menulis pada tubuhnya. Seakan-akan segala yang kau ceritakan hanyalah angin lalu baginya. Dan saya yakin, setiap orang tak menginginkan teman semacam itu.