Bukan Tontonan

Jenuh, bahkan hingga muak sudah aku merasa.
Tak ada lagi segenggam aura ceria,
dan rasa bahagia yang tiada tara saat mendengar,
melihat dan menikmati siaran melalui media.
Hanya menampilkan beberapa fakta yang terkadang dibuat sekenanya,
menimbulkan persepsi bahwa itu adalah cerita palsu belaka.
Lihatlah pada bermacam berita yang ada,
mereka berkata bahwa moral anak bangsa sudah sangat mengkhawatirkan bagi dunia.
Namun sejatinya, semua itu berasal dari tontonan yang menjadikan semuanya bukan tuntunan.
Sinetron dan drama dalam televisi selalu saja sama alurnya ceritanya,
kecemburuan akan kebahagiaan seseorang awalnya,
dan kemudian mati atau taubat menjadi pilihan akhirnya.
Bukankah ini suatu ironi?
Kenyataan yang dijadikan semacam fiksi.
Yang mengajarkan bahwa tindak kejahatan adalah wajar bagi kehidupan.
Iri hati yang kemudian dengki seakan akan menjerumuskan seseorang untuk berani melakukan pembunuhan.
Sungguh, lebih baik melihat film laga yang jelas menayangkan pembunuhan,
atau drama yang diselingi cinta terlarang dan juga persetubuhan.
Sebab film hanyalah sekadar hiburan,
bukan untuk dijadikan pedoman,
apalagi bagi orang-orang yang masih memiliki kepercayaan terhadap keyakinan.

Jenuh, bahkan hingga semakin muak saja aku merasa.
Bukan ingin menyalahkan media,
tetapi tak semua masyarakat di dunia memiliki pendidikan yang sama.
Beberapa tak bisa menyaring mana sesuatu yang opini,
dan mana sesuatu yang fakta.
Dan kurasa sudah terlalu banyak kebohongan siaran dalam media.
Hanya ingin menghebohkan, menggembor-gemborkan,
tanpa menerapkan moral dan etika di dalamnya.
Dan janganlah menyalahkan orang tua, apalagi psikologis manusianya.
Lihatlah secara nyata, seperti apa generasi muda sekarang karenanya.

Pamulang, Oktober 2017

Status Facebook

Penyair dalam diriku lebih memilih tidur lebih lama, Nona. Sebab kata, belakangan kehilangan cintanya, ia lebih sering berpropaganda.

Facebook, belakangan menjadi tempat untuk saya kembali menuliskan ide, opini, puisi, pemikiran dan bahkan ceracauan. Tak ada hal khusus sebenarnya, hanya saja Facebook masih sangat baik untuk dijadikan sarana berbagi cerita dan masih menarik untuk dijelajahi lebih jauh, terlebih mengenai apa yang orang lain bagikan dalam kolom yang biasa dikenal status.

Beruntung saya memiliki banyak pertemanan-lebih tepat 1227 orang- yang biasanya terdiri dari teman masa sekolah dan kuliah, teman rumah atau tetangga, teman chatting dan tentu saja saudara. Jadi saya bisa dengan mudah menikmati apa yang mereka bagi dan ceritakan dalam statusnya. Tapi sayangnya, sekarang ini saya meyakini bahwa beberapa diantara seribu orang teman tersebut sudah tak menggunakan Facebook lagi. Barangkali lantaran;

Kecewa
Seperti kau ketahui, mulanya Facebook dijadikan sebagai ajang mencari teman baru atau sarana berkomunikasi yang efektif dengan teman lama yang tak kunjung bertemu. Membaca status dan melihat foto-foto yang diunggah kadang bisa menuntaskan rindu, dan kadang pula membuat hati berkecamuk dari biasanya dan kemudian salah paham. Misalnya saja suatu ketika gebetan atau teman dekatmu membuat status yang kau kira itu adalah untukmu. Kau merasa sangat bahagia dan berharap lebih dia akan menjadi milikmu, hingga tak berapa lama ia mengunggah foto yang ternyata di dalamnya terlihat ia begitu dekat dan mesra bersama seseorang. Kau patah hati dan akhirnya demi kenyamanan diri menutup akun dan bahkan menghapusnya.

Sudah Bosan
Bagi mereka yang berusia sebanding dengan saya atau diantaranya, barangkali sudah merasakan bermain Facebook pada masa jayanya. Walau sekarang ini sudah banyak fitur tambahan yang menarik guna menyaingi media sosial lainnya, tetap saja beberapa orang mulai merasa bosan karena sudah merasa puas dan bermain terlalu lama, sehingga mereka beralih ke media sosial masa kini. Dan barangkali yang juga menjadi hal membosankan bagi beberapa orang, adalah Facebook sering digunakan sebagai tempat berjualan. Sebenarnya itu sah-sah saja, tapi kembali ke mulanya, perbincangan dan diskusi dengan teman lama berkurang karena mereka tak nyaman timeline-nya dipenuhi orang barang dagangan hingga akhirnya memutuskan menutup akun dan tak akan kembali.

Memiliki Keluarga Baru (Alias Menikah)
Status-status yang berupa kode kepada kegebetan, tulisan-tulisan pada note yang menceritakan hubungan cinta dengan pacar dan juga momen-momen kebersamaan yang mesra berupa foto-foto, yang kini hanya menjadi kenangan sebab pada akhirnya hanya menjadi mantan, itu harus dihapuskan atau bahkan dihilangkan agar tak ketahuan jejaknya. Itulah barangkali yang menjadi dasar mengapa banyak teman yang sudah menikah untuk berhenti bermain Facebook. Kalaupun ada, biasanya mereka membuat akun baru untuk memberitahu bahwa dia sudah punya kehidupan yang baru.

Terlepas dari semua alasan yang sudah dijelaskan, Facebook tetap menjadi andalan saya untuk menikmati kehidupan yang membosankan. Membaca status yang dituliskan beberapa teman adalah salah satu hal menyenangkan yang menjadi semacam hiburan hingga kadang membuat kita bertanya-tanya dan berpendapat entah baik maupun buruk. Saya meyakini bahwa kau juga setuju bahwa bermusuhan dan berjauhan dengan teman, itu tak baik. Tapi begitulah kehidupan, kita tak bisa membuat orang lain selalu mengerti apa yang kita mau.

Pada beberapa kasus yang sudah lama, terutama pilkada, beberapa orang teman dalam Facebook terbawa suasana. Mereka jadi berpikir yang tidak-tidak, juga menyebarkan berita yang belum tentu benar adanya, dan yang paling parah dan membuat saya muak adalah rasa kebencian yang tertulis pada status mereka. Ada yang bilang biarkan saja mereka seperti itu, tapi menurut saya memiliki seorang teman seperti itu tak ada faedahnya, jadi mau tak mau saya harus meng-unfriend mereka dari pertemanan.

Hasil nyata yang terjadi akibat kasus yang sudah-sudah, entah itu hoax atau black campaign, adalah warganet menjadi semakin baper. Contohnya saja pada kasus yang baru ini terjadi, tentang status Facebook seorang wartawan yang membandingkan dua tokoh politik pemerintahan membuat dia dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik. Padahal kalau dicermati, apa yang dia tuliskan pada status adalah fakta dan dengan sumber tepercaya. Jadi saran saya, demi mencari jalan aman, sebaiknya jangan terlalu memedulikan apa yang di-posting seseorang, apalagi berkomentar yang tidak-tidak sebelum tahu faktanya. Seperti kata Budi Darma dalam bukunya yang berjudul Orang-Orang Bloomington; “Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain. Hanya dengan jalan demikian, kita dapat tenang.”

Berdasar dari pengalaman itulah saya lebih sering menuliskan apa yang ada di pikiran saya-baik itu puisi, semacam sajak, opini singkat, ceracau sarat makna maupun kejadian sehari-hari-mengenai kehidupan yang saya jalani ketimbang harus mencaci maki dan menasihati orang lain seakan-akan dirimu yang paling benar sendiri. Biarkan orang berasumsi dan berpikir tentang saya ini dan itu, karena memang status Facebook sesungguhnya adalah sarana cerminan diri atau sarana pembohongan diri.

Kotak Kosong

…………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………….

Akan tak terhitung seberapa banyak lagi titik-titik itu akan bermunculan. Ketika kau mengisinya dengan beberapa huruf, angka atau sekadar emoji, lalu berubah menjadi kata lalu kalimat lalu paragraf hingga akhirnya membentuk sebuah cerita dimana kau sebagai tokoh utamanya. Kau menekan tombol enter atau meng-klik pilihan yang menandakan bahwa apa yang kau tuliskan sudah selesai pada layar telepon pintarmu atau keyboard laptopmu. Setelah itu terbit, secara otomatis titik-titik yang biasanya ditampilkan sebagai kotak kosong itu akan kembali.

Bagi pengguna media sosial seperti Facebook atau Twitter, atau aplikasi chatting seperti BBM, akan sangat mengenal sebuah kotak kosong yang biasanya ditandai dengan kalimat ‘Apa yang kau pikirkan?’ atau ‘Apa yang sedang terjadi?’ Tertera jelas, kotak kosong itu barangkali hanya ingin mengetahui apa yang sedang dirasakan, dipikirkan bahkan dikenakan pada Sang Pemilik Akun. Tentu saja kotak kosong itu bukan sesuatu yang hidup, melainkan bentuk lain yang dihidupkan seakan-akan membuat kehidupan lain lebih hidup. Rumit? Mengerti? Lewati saja kalimat tadi! Cukup kau ketahui bahwa kotak kosong itu adalah teman, yang memberikan semacam pencerahan atau kelegaan kepada diri atas hal yang membebani kau saat ini.

Saya termasuk ke dalam orang yang berteman dengan kotak kosong-selanjutnya saya akan sebut dia Kokos, agar lebih akrab dan tak sama dengan sebutan baju yang biasa dipakai orang muslim. Kokos tak pernah mengeluh atas segala omongan, pemikiran dan perasaan yang saya curahkan kepadanya setiap hari, setiap beberapa jam, dan kadang pula setiap waktu-yang diukur dalam menit seringnya-kalau sedang ingin banyak berbicara. Barangkali sebab kecepatan penerbitan yang dimiliki, Kokos tak pernah merasa repot atau direpotkan. Dengan menekan tombol enterdone atau selesai-Kokos akan selalu kembali seperti semula, kosong.

Suatu kali pada kurun waktu tertentu, saya hanya bercerita tentang depresi dan kesedihan. Saya curiga, pada saat itu Kokos menganggap saya sebagai lelaki cengeng atau lelaki lemah. Lalu saya pun pernah menceritakan kepadanya tentang kehampaan dan kesendirian. Saya takut, pada saat itu Kokos merasa dia tak dianggap dan bukan menjadi seorang teman yang layak. Dan pada suatu waktu yang lain, saya banyak menulis cerita yang lebih pantas disebut fragmen, yang beberapa diantaranya tak pernah selesai atau dilanjutkan menjadi sebuah cerita yang utuh. Semoga saja Kokos tetap mendoakan saya untuk menjadi seorang penulis.

Seperti pada umumnya mahkluk ciptaan Tuhan, dan atau yang berpura-pura menjadi Tuhan, Kokos pun tumbuh dan berkembang. Sekarang, Kokos bisa melakukan hal lain, contoh menggugah foto dan video, membagikan laman, dan merupa emoji yang menggambarkan perasaan. Saya senang, kemampuan itu memberi saya kemudahan dalam berbagi informasi kepada sesama pengguna media sosial. Barangkali, itulah makna pentingnya dari suatu kedewasaan.

Apa yang kau pikirkan?
………………………………….
Kau menatap terlalu lama
Apa barangkali,
malu mengungkap rasa?
takut menulis pikir?
Kotak kosong, kan selamanya hampa
Jika kau menatap terlalu lama.

Tak mudah menjawab pertanyaan ‘Apa yang kau pikirkan?’ bagi beberapa orang. Dalam media sosial, semua harus diperhitungkan. Saya, seringkali tak jadi menerbitkan status-bahasa lainnya-karena suatu alasan semacam; takut ada yang tersinggung atau salah paham, takut menjadi tak disukai seseorang dan takut memulai kebencian dan pemikiran yang salah. Seperti kata pepatah, ‘apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai.’

Memang, Kokos adalah teman yang baik, tapi ada ungkapan, ‘sebaik-baiknya teman adalah teman nyata.’ Kokos tinggal di media sosial, dimana rasa peduli, simpati dan empati kebanyakan digunakan sebagai topeng kepura-puraan atau sekadar dijadikan jalan menuai pujian. Apa yang kau tuliskan pada Kokos memang melegakan, membuat nyaman, tapi akan ada masanya dimana kau merasa sangat butuh pelukan dan sandaran. Apa yang kau tuliskan pada Kokos, nantinya tetap akan bisa kau atur, entah itu sunting, tak terlihat bahkan hapus. Itu menjadikanmu bukan sebagai seorang teman, melainkan seorang Tuan. Satu hal lainnya, Kokos, Sang Kotak Kosong, akan selalu kembali kosong saat kau selesai menulis pada tubuhnya. Seakan-akan segala yang kau ceritakan hanyalah angin lalu baginya. Dan saya yakin, setiap orang tak menginginkan teman semacam itu.