Nikmat Pagi

Matahari cukup terik
Tirai menutupi cahaya
Hening, bahkan tak berbisik
Lelaki itu belum terjaga

Antara pukul delapan menuju sembilan, hampir setiap hari, saya mulai membuka mata. Cukup siang memang, bagi mereka yang suka bepergian sejak fajar menampakkan diri. Saya, tak termasuk ke dalam golongan orang-orang semacam itu. Pagi, adalah waktu yang dipergunakan untuk memejamkan mata dan kembali bermimpi. Oleh karenanya, kadang mereka suka berkata, “Kau enak bisa bangun siang, tak perlu bermacet-macetan ke tempat kerja.” Saya akui bahwa itu memang menyenangkan, tapi sayangnya saya tak terlalu suka dengan hal itu. Sebab pagi punya kenikmatan tersendiri.

Saya tahu bagaimana nikmat pagi sebelum rutinitas seperti sekarang ini. Pukul lima bangun, berwudhu lalu salat subuh. Seperti kau ketahui, khususnya seorang muslim, air wudhu yang mengaliri tubuh, mulai dari wajah, tangan hingga kaki akan membuatmu segar dan kembali terjaga dan juga menenangkan. Berserah diri sejenak kepada Sang Pencipta untuk kemudian mandi pukul enam, yang membuat badan kembali bugar setelah diistirahatkan sejak malam. Sarapan, kadang sekadar roti diolesi mentega ditambah susu kental rasa cokelat, atau nasi goreng atau nasi uduk ditambah gorengan. Sungguh, itu adalah kenikmatan yang sekarang sering terlupakan sebab pekerjaan. Tapi untuk mengatasi kerinduan, nasi goreng dan nasi uduk pun biasanya menjadi menu makanan yang enak dimalam hari, terlebih kalau nasi uduknya disantap bareng dengan pecel ayam atau pecel lele.

Pagi akan sangat merugi jika segelas teh hangat tak tersedia. Tak terlalu manis, cukup saja, agar terasa rasa asli tehnya, itu untuk saya. Tapi bagi beberapa orang, seperti ayah saya, menyeruput kopi di pagi hari adalah kenikmatan baginya. Biasanya, selepas salat subuh, Mama-sebutan ibu di keluarga saya-membuatkan secangkir kopi hitam dicampur sedikit gula. Ayah tak suka sarapan, atau barangkali tak sempat. Diantara pukul enam hingga tujuh, ia sudah harus berangkat menuju kantor. Jadinya, teman setia saat meminum kopi adalah membaca sedikit berita melalui koran pagi langganan, yang sekarang sudah berhenti semenjak media online bisa dibaca dimana saja melalui telepon seluler kesayangan. Itulah sedikit nikmat pagi yang saya tahu, dahulu.

Bekerja dimulai dari pukul satu siang itu melelahkan. Menguap dan mengucek mata adalah salah satu aktivitas awal yang sering terlihat. Barangkali itu disebabkan oleh jam makan yang berubah. Antara pukul sepuluh menuju sebelas pagi, biasanya saya makan besar pertama kali setiap hari. Lalu mengecek email dan mengunduh data-biasanya berupa gambar-untuk dikerjakan di toko nantinya. Dilanjutkan mandi pukul dua belas, bersiap-siap, salat dzuhur, kemudian berangkat ke toko yang ditempuh kurang lebih lima belas menit. Selama kurang lebih tujuh jam, pekerjaan saya hanya duduk saja melihat ke arah layar laptop. Walau kadang ada waktunya berdiri sejenak jika ada pelanggan yang memang perlu dijelaskan beberapa hal mengenai kualitas bahan dan hasil produksi yang dipajang di toko. Perlu diketahui, duduk terlalu lama juga bisa sangat melelahkan dan tak baik bagi kesehatan.

Pukul sembilan malam adalah waktu yang ditetapkan untuk dapat kembali ke rumah. Kebiasaan baru yang tak baik setelah itu adalah makan besar. Anehnya, kebanyakan orang jadi mengantuk sehabis makan, tapi itu tak berlaku untuk saya hanya pada malam hari. Mungkin ini akibat kerja sama antara mata dan otak yang menolak tidur sehabis makan karena anggapan bahwa makan larut malam bisa membuatmu gendut, apalagi tertidur setelahnya. Karena hal itu, saya biasanya membunuh waktu dengan membaca buku kumpulan cerita atau novel yang belum sempat dibaca, atau menonton film di laptop sampai kantuk datang dan mengajak tidur.

Dini hari kini menjadi teman
Lelah, membuat tubuh tak nyaman
Resah, tidur pun susah
Menunggu mata, memejam tanpa diperintah

Belakangan, ada yang berubah. Beberapa kali minggu pagi, lebih kurang pukul tujuh, saya sudah terjaga. Padahal malamnya saya tak tidur cepat, masih dini hari, biasanya antara pukul satu hingga tiga. Bahkan minggu yang sering menjadi waktu untuk bertemu kekasih, pukul delapan biasanya saya terjaga, lalu berangkat pukul sepuluhnya. Saya berpikir, barangkali tubuh sudah bosan dengan rutinitas bangun siang. Barangkali tubuh rindu, meminum segelas teh manis hangat, lalu makan nasi goreng atau nasi uduk ditambah gorengan. Barangkali tubuh pun ingin merasakan keluar keringat sehabis olahraga-saya biasa bermain tenis meja dengan bapak-bapak tetangga di akhir pekan. Dan barangkali saja tubuh berusaha mengingatkan bahwa kesehatan adalah salah satu nikmat pagi yang harus dijaga. Atau barangkali, sebenarnya sayalah yang menyuruh tubuh melalui pikiran dan perasaan untuk merasakan kembali nikmat pagi pada diri, entahlah, saya beralasan.